Sisa Permen dalam tas ketika melakukan perjalanan ke Jakarta, Kata-katanya seperti Sinkronistas dengan mimpi dan asa.... Selengkapnya...
Saya sangat menyukai drama korea sejak tahun 2000 ketika pertama kali di tayangkan sebuah film yang berjudul Endless love. Hal yang menarik yang membuat saya suka bukan semata-mata karena para pemain yang berwajah tampan dan cantik melainkan isi cerita plot juga karakter pemain yang dikemas sedemikian rupa. Poin plus yang selalu saya dapatkan dari serial drama korea adalah Jalan cerita yang kadang tak bisa ditebak sampai akhir dan selalu saja ada nilai-nilai atau filosofi yang secara langsung ataupun tidak, coba disampaikan dari sebuah serial drama korea.
Beberapa hari lalu saya telah selesai menonton sebuah drama film korea yang berjudul 49 days. Dan setelah menontonnya jadi terpikir untuk menulis apa yang saya dapatkan dari drama korea yang satu ini. 49 Days ini bercerita tentang seorang wanita yang naif, ceria polos, baik hati dan memiliki segalanya. Sehari menjelang pernikahannnya dia mengalami kecelakaan tragis yang membuatnya koma, mati suri. Dalam keadaan mati suri tersebut dia diberi waktu 49 hari untuk mengumpulkan 3 tetes air mata dari orang-orang yang tulus mencintainya selain keluarganya agar dia bisa bangkit kembali dari mati suri. Kejadian yang terjadi dalam 49 hari itu memberinya banyak sekali pelajaran tentang hidup. Nah dari film ini saya mencatat beberapa hal bahwa;
- Ketika kita membantu/memberi kepada orang lain, tidak lantas hal itu menyenangkan orang tersebut, adakalanya orang yang kita bantu justru merasa terhina dan bahkan merasa dinggap rendah karena bantuan yang diberikan dan malah membuat mereka merasa terlukai harga dirinya.
- Segala sesuatu tak selalu tampak seperti sebagaimana adanya. Terkadang orang yang tampaknya acuh padamu, tak ingin lama-lama berbicara padamu, terkesan menghindarimu adalah orang yang justru paling memperhatikanmu dan paling tulus membantumu tanpa kau tahu. Sebaliknya, Terkadang ada orang yang mengabulkan segala keinginanmu, bersikap manis dan memperlakukanmu seolah kau begitu berarti baginya namun ternyata palsu hanya karena mereka menginginkan sesuatu darimu lantas memanfaatkanmu.
- Ketika kita mencintai orang lain kemudian terjadi kesalah pahaman atas apa yang kita lakukan, kita akan tetap diam dan membiarkan kesalahpahaman itu terjadi, membuat orang yang kita cintai berpikir bahwa kita telah melukainya. Kita tidak ingin menjelaskan kesalah pahaman itu karena justru takut melukai hati orang yang kita cintai.
- Bahwa seharusnya kita menjalani hidup seolah kita tak punya lagi hari esok sehingga yang ada, kita hanya terus berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk diri kita dan orang-orang sekitar kita.
- Bahwa selalu ada alasan untuk segala sesuatu yang terjadi pada diri kita. Entah itu kejadian baik atau buruk sekali pun. Biasanya kita dihadapkan dengan hal-hal yang menurut kita buruk, padahal dari kejadian itu kita mendapatkan hal baik yang tak pernah sekalipun kita sangka sebelumnya. Dan ketika kita mengalami hal-hal baik, terkadang kita lupa untuk bersukur.
- Bahwa sekeras apapun manusia berusaha mengubah segalanya, Takdir yang selalu menang.
- Kita tak pernah bisa benar-benar merasakan rasa sakit atau derita orang lain jika kita tak pernah mengalami hal yang sama sehingga jangan mecoba berbicara bijak pada orang lain yang sedang mengalaminya karena itu hanya akan membuat mereka berkata; “Omong Kosong!!” “Hidupku tak sama dengan hidupmu, tak semudah hidupmu”
- Seberat apapun hidup yang kita jalani, bertahanlah dan jangan pernah berputus asa. Jangan pernah berpikir untuk mengakhirinya karena begitu banyak orang-orang yang bahkan melakukan segala cara untuk tetap hidup melawan penyakit yang mungkin saja tiba-tiba merenggut nyawanya.
Selengkapnya...
Sebenarnya sudah lama sekali ingin menulis tentang ini, hanya saja multitask yang saya kerjakan beberapa bulan ini membuat saya vakum menulis lagi. Miris juga melihat blogku yang lama tak banyak diisi lagi sepanjang tahun 2013 ini.
Ternyata bagi kebanyakan orang kesendirian adalah sesuatu yang bisa dikategorikan”aneh” bagi sebagian orang. kalimat ini yang bisa saya simpulkan dari berbagai macam momentku yang menyangkut tentang “sendiri”.
Beberapa hari lalu ketika libur,saya memutuskan untuk pergi keMall. Berdiam diri di rumah ketika libur kadang membosankan juga . Disana, tidak sengaja saya bertemu dengan teman kantorku bersama anak dan istrinya yang tengah asyik cuci mata juga. Ketika saya menyapa mereka, dan mereka melihat saya sendiri, temanku langsung bertanya: Kamu ke sini sama siapa? Dengan tersenyum saya menjawab: sendiri. Istrinya lalu nyeletuk: “kenapa sendiri? Kamu kayak anak hilang kalo jalan sendiri Hehehehe” Saya Cuma membalas dengan senyum dan kemudian berbasa-basi bertanya ini-itu tapi dalam hati saya berkata: “emang ada larangan jalan-jalan ke Mall sendiri?” Kejadian ini sudah berulang kali ketika kebetulan saya bertemu dengan teman atau kenalan saya di tempat-tempat umum seperti Mall,bioskop, toko buku dan lainnya. Anehnya ,meskipun bertemu dengan orang yang berbeda-beda tapi isi kepala mereka sepertinya sudah ter-setting pertanyaan; kamu sama siapa? Kenapa sendiri? Dan terkadang ada yang menambahkan lagi komentar seperti: “apa rasanya tidak aneh kah klo jalan sendiri?” Klo saya tidak bisa, harus ada kutemani jadi kalo tidak ada yang bisa menemani saya tidak bisa pergi karena rasanya aneh kalo jalan sendiri nanti dikira lagi Galau.”
Saya pernah juga mendapat tatapan heran dari Mba’ atau Mas2 yang menjaga loket nonton bioskop atau disebuah tempat makan ketika mereka bertanya: “untuk berapa orang?” saya dengan tersenyum menjawab “satu” seakan tidak meyakinkan jawabanku,mereka pasti akan bertanya lagi; “untuk satu orang? (Ow…ow…ow..betapa aneh kah berjalan sendiri?”)
“Fabiayyialaairobbikumaa tukadibaan; nikmat tuhanmu yang mana yang ingin kau dustakan”
Dulu ketika saya masih berumur belasan tahun, terkadang saya berandai-andai dengan berbagai macam pertanyaan: “Bagaimana gayaku nanti ketika berumur 25 tahun?”saya sudah menjadi apa ketika itu? Apa saya telah menikah pada saat itu dan punya anak-anak yang lucu? Atau melanjutkan pendidikan S2? Atau sudah menjadi pegawai? Atau sesuatu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya? Apa saya juga akan mengenakan sandal atau sepatu high heels? Akan selalu memakai riasan wajah ketika bepergian? Akan memakai banyak aksesoris untuk melengkapi penampilan saya? Akan mengenakan tas “ibu-ibu”? apa saya akan menjadi orang yang lebih serius berbicara dari pada bercanda? Pertanyaan andai-andai itu membuatku terkadang berpikir; Seperti apa Orang bisa dikatakan dewasa itu mengapa nampaknya menjadi dewasa itu menakutkan dan serius.
Waktu itu dalam benak saya dan pemikiran saya, gambaran wanita ketika berumur 25 tahun adalah: Dewasa secara penampilan fisik, berpakaian, bertutur kata, pemikiran yang matang dan dapat mengatur emosi dengan lebih baik sehingga semua itu menjadi patokan bahwa wanita ketika berumur 25 tahun sudah “semestinya” Menikah.
Ketika tamat SMA dan memasuki dunia kuliah, saya melihat teman-teman saya mulai mengubah penampilan mereka menjadi dewasa. Dari yang tidak tau berpakaian menjadi paling modis, dari yang tidak tau make-up menjadi paling ahli, dari yang tomboy berubah jadi anggun. Tas ransel diganti dengan tas “ibu-ibu”, sepatu sneakers diganti dengan flat shoes atau high heels yang cantik. Sedangkan saya masih begitu-begitu saja, biasa saja tampil polos apadanya. Saya Cuma focus pada kuliah dan tidak begitu mementingkan apa yang kukenakan,yang penting menutup aurat secara baikdanbenaritu sudah cukup. Waktu kuliah saya jarang ikut jalan-jalan ke Mall atau ngumpul bareng sama teman-teman sekampusku. Saya ke kampus tepat pada waktunya, pulang tepat pada waktunya dan lebih banyak berkumpul sama 3 sahabat kampusku yang memang tidak terlalu sering jalanke Mall. Alhasil setelah selesai kuliah, secara penampilan saya masih begitu-begitu saja, tidak tau bergaya.
Dunia setelah kuliah adalah dunia yang sebenarnya. Ketika saya menjadi Job seeker (Pencari kerja), baru terasa dan saya kemudian paham bahwa memperhatikan penampilan dan make up bagi wanita memang perlu dalam dunia pekerjaan meski tidak semua pekerjaan memberikan persyaratan harus tampil menarik atau memang tidak ditulis dalam persyaratan pekerjaan “Harus bisa make up” tapi setidaknya itu menjadi poin; bahwa kita sebagai pelamar kerja tau menempatkan diri/tau membedakan pakaian/sepatu apa yang pantas dipakai di kantor. Situasi lainnya yang membuat saya belajar bergaya dan make up adalah ketika mulai berdatangan undangan nikah dari teman-teman, ketika saya menjadi asisten dosen, ketika saya kerja dan yang terkhir ketika saya jatuh cinta pada seseorang. Semua hal ini akhirnya membuat saya setidaknya bisa ber makeup. Namun dalam hal penampilan, saya lebih suka yang simple saja. Saya hanya menyesuaikan situasi kapan harus berpakaian formal dan tidak formal. Menjadi apa adanya diriku itu lebih nyaman.
Seiring berjalannya waktu dan begitu banyak proses hidup yang kujalani, beberapa pertanyaan andai-andaiku dulu terjawab pelan-pelan oleh pengalaman hidup yang menempaku sampai pada umur 25 tahun ini. Tapi ada satu pertanyaan yang tidak kudapat jawabannya dari orang-orang dewasa yang pernah kutanya,namun akhirnya kudapatkan sendiri diumurku yang sudah seperempat abad ini ini. selain belajar dari pengalaman sendiri, Secara langsung atau tidak, saya sering mengamati orang disekitar saya, mempelajari hal-hal kecil disekitar saya, melihat berbagai macam karakter orang, mendengar pengalaman hidup orang lain. Dan ternyata; umur tidak bisa jadi di tolak ukur kedewasaan seseorang; penampilan pun tidak; orang yang dewasa itu juga bukan berarti selalu serius menyikapi semua hal,orang dewasa itu juga bukan mereka yang tau menasehati orang lain.orang dewasa juga bukan mereka yang banyak pengalaman. Bagiku, dewasa itu dilihat dari bagaimana kita menyikapi apa saja yang terjadi dalam hidup kita, terencana atau yang tak pernah terencana sekalipun.
Alhamdulilah, kini diusiaku yang sudah seperempat abad, saya sudah bisa membiayai hidupku sendiri dengan hasil keringatku. Penghasilan yang kudapat bisa kutabung, bisa kuberikan pada orang tua dan adekku dan bahkan bisa kugunakan untuk membantu orang lain yang memang sedang susah. Saya memang belum punya pekerjaan tetap yang bisa saya andalkan sampai nanti karena saya masih pegawai kontrak, tapi saya benar-benar bersukur karena apa yang ada sekarang telah mewujudkan sebagian keinginanku yang dulu tidak bisa kulakukan dan disamping itu dengan apa yang saya kerjakan, sebagai pengajar, sekarang saya senang bisa menjadi manfaat buat orang lain. Namun saya merasa masih perlu belajar lebih banyak lagi, saya masih punya harapan-harapn yang belum terpenuhi. Salah satunya, saya ingin menyempurnakan agama saya dengan Menikah,menjadi seorang istri dan Ibu. Allah SWT Maha Tahu yang Baik untuk saya, Maha mendengar Doa-doa dan Maha Mengetahui waktu yang paling tepat untuk mendapatkan yang terbaik. Jika mungkin bukan tahun ini saya di pertemukan denagn “Teman hidup” saya yang telah ditakdirkan menjadi IMAMku, Berati DIA mempunyai Kejutan untukku suatu hari nanti. Mungkin saya harus mempersiapkan diri menjadi Makmum yang baik agar kelak ketika bertemu saya sudah siap mendampingi Imamku. Aku percaya; "Inamaa Amruhuu,idzaa araadha syai'an Ayyaquulalahuuu Kun!! Fa Yakun" ^_^
Selengkapnya...
Tulisan akhir tahun ini berisi tentang segala pengalaman yang justru menjadi hal pertama dalam hidup saya disepanjang 2012. Sengaja saya tulis diakhir tahun sebagai flash back apa yang telah berlalu di sepanjang tahun ini.