Mereka Bilang "ANEH"

Rabu, 17 Juli 2013

Sebenarnya sudah lama sekali ingin menulis tentang ini, hanya saja multitask yang saya kerjakan beberapa bulan ini membuat saya vakum menulis lagi. Miris juga melihat blogku yang lama tak banyak diisi lagi sepanjang tahun 2013 ini.
Ternyata bagi kebanyakan orang kesendirian adalah sesuatu yang bisa dikategorikan”aneh” bagi sebagian orang. kalimat ini yang bisa saya simpulkan dari berbagai macam momentku yang menyangkut tentang “sendiri”.
Beberapa hari lalu ketika libur,saya memutuskan untuk pergi keMall. Berdiam diri di rumah ketika libur kadang membosankan juga . Disana, tidak sengaja saya bertemu dengan teman kantorku bersama anak dan istrinya yang tengah asyik cuci mata juga. Ketika saya menyapa mereka, dan mereka melihat saya sendiri, temanku langsung bertanya: Kamu ke sini sama siapa? Dengan tersenyum saya menjawab: sendiri. Istrinya lalu nyeletuk: “kenapa sendiri? Kamu kayak anak hilang kalo jalan sendiri Hehehehe” Saya Cuma membalas dengan senyum dan kemudian berbasa-basi bertanya ini-itu tapi dalam hati saya berkata: “emang ada larangan jalan-jalan ke Mall sendiri?” Kejadian ini sudah berulang kali ketika kebetulan saya bertemu dengan teman atau kenalan saya di tempat-tempat umum seperti Mall,bioskop, toko buku dan lainnya. Anehnya ,meskipun bertemu dengan orang yang berbeda-beda tapi isi kepala mereka sepertinya sudah ter-setting pertanyaan; kamu sama siapa? Kenapa sendiri? Dan terkadang ada yang menambahkan lagi komentar seperti: “apa rasanya tidak aneh kah klo jalan sendiri?” Klo saya tidak bisa, harus ada kutemani jadi kalo tidak ada yang bisa menemani saya tidak bisa pergi karena rasanya aneh kalo jalan sendiri nanti dikira lagi Galau.”
Saya pernah juga mendapat tatapan heran dari Mba’ atau Mas2 yang menjaga loket nonton bioskop atau disebuah tempat makan ketika mereka bertanya: “untuk berapa orang?” saya dengan tersenyum menjawab “satu” seakan tidak meyakinkan jawabanku,mereka pasti akan bertanya lagi; “untuk satu orang? (Ow…ow…ow..betapa aneh kah berjalan sendiri?”)




Saya biasanya bepergian kesana-kemari sendiri. Jika saya ingin membeli buku atau keperluan saya, saya memang lebih nyaman untuk pergi mencarinya sendiri. Jika saya lagi bosan dan ingin mencuci mata kemana saja, saya akan melakukannya sendiri. Ini bukan berarti saya suka menyendiri,bukan berarti tidak suka bergaul. Saya orang yang paling suka bergaul, saya punya banyak teman dan sahabat. Saya juga sering menghabiskan waktu bersama mereka. Entah itu ngumpul bareng dirumah teman saya, atau janjian nonton, karaokean atau janjian di tempat makan. Saya juga punya seorang adik perempuan dan mama yang paling gaul sedunia, yang bisa selalu diajak jalan bareng. Jadi jelas sekali bahwa alasan saya sering jalan-jalan sendiri bukan karena saya tidak punya teman, galau dan tidak tau bersosialisasi. Saya punya alasan tersendiri untuk menjawab mengapa kamu suka pergi jalan-jalan sendiri?

Alasan pertama: Ketika saya ingin mencari sesuatu yang saya inginkan, saya lebih suka mencarinya sendiri tanpa ditemani karena saya tidak ingin membebani siapapun ‘’kecuali adik saya’’ untuk membuang waktu menemani saya yang bisa berjam-jam atau setengah hari berpindah pada satu tempat ke tempat lain untuk mencari apa yang saya inginkan. Jadi lebih baik sendiri, bisa bebas berjalan kemana saja sesuka hati.

Alasan kedua:
Karena sudah terbiasa, jadi saya tidak terlalu pusing dengan hal itu dan memang saya sudah membiasakan diri untuk bisa jalan kemana-mana agar ketika saya dihadapkan pada kondisi yang mengharuskan saya untuk berjalan sendiri , saya bisa melakukannya tanpa harus ditemani. Saya paham bahwa manusia itu mahluk social dan selalu membutuhkan orang lain tapi kita sebaiknya melatih diri untuk tidak bergantung pada kehadiran orang lain.
Suatu kali saya pernah dengar seorang teman berkata: “Saya tidak makan siang tadi di kantin karena nda ada yang temani makan, saya tidak bisa makan sendiri”, ada juga yang seperti ini: “Saya belum pernah ketemu dosenku untuk konsultasi skripsiku karena saya tidak tau rumahnya dan tidak ada yang temani saya untuk cari tau rumahnya” ada juga yang seperti ini: “Sebenarnya saya mau sekali nonton film itu, film yang kutunggu-tungu tapi karena tidak ada temanku nonton jadi saya pun tak bisa nonton”. Yang lainnya seperti ini: “Saya mau cari buku tapi tidak ada yang temani “. Ada juga temanku yang bercerita bahwa betapa susahnya dia pergi sendiri meskipun itu urusan sepele hanya karena selama ini dia terbiasa selalu ditemani pacarnya, maka setelah putus dia seperti orang lumpuh yang tak tau arah dan tak tau ngapa-ngapain sendiri. Nah loh…jangan sampai semua jalannya hidup kita digantungkan dengan kehadiran orang lain. Yah mengapa tak dibuat simple seperti ini; kalo lapar ya makan, haus ya minum, ngantuk ya tidur..
Hmmh…ada juga hal yang membuat saya agak risih bagi sebagian orang yang mengartikan bahwa orang yang suka sendiri itu sedang galau jadi ketika mereka melihat ada orang sedang duduk sendiri, makan sendiri, jalan sendiri,atau nonton sendiri. Padahal tidak selamanya seperti itu. Saya yakin mereka yang juga sering “sendiri” punya alasan masing-masing. Untuk menutup tulisan saya ini, saya ingin mengutip kata-kata dari Indra Herlambang dalambukunya “Kicau-Kacau”

“Saya cinta Keluarga saya, saya cinta sahabat dan teman-teman saya.Tapi saya juga cinta diri saya.karenanya menikmati waktu dengan diri sendiri. Buat saya bukan merupakan pilihan, tapi keharusan. Apalagi sebenarnya diujung hidup ini ada kematian. Sesuatu yang harus benar-benar dijalani sendirian,tanpa teman”(Indra Herlambang)

Selengkapnya...

Sampai pada titik "Seperempat Abad"

Jumat, 07 Juni 2013


“Fabiayyialaairobbikumaa tukadibaan; nikmat tuhanmu yang mana yang ingin kau dustakan”

Dulu ketika saya masih berumur belasan tahun, terkadang saya berandai-andai dengan berbagai macam pertanyaan: “Bagaimana gayaku nanti ketika berumur 25 tahun?”saya sudah menjadi apa ketika itu? Apa saya telah menikah pada saat itu dan punya anak-anak yang lucu? Atau melanjutkan pendidikan S2? Atau sudah menjadi pegawai? Atau sesuatu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya? Apa saya juga akan mengenakan sandal atau sepatu high heels? Akan selalu memakai riasan wajah ketika bepergian? Akan memakai banyak aksesoris untuk melengkapi penampilan saya? Akan mengenakan tas “ibu-ibu”? apa saya akan menjadi orang yang lebih serius berbicara dari pada bercanda? Pertanyaan andai-andai itu membuatku terkadang berpikir; Seperti apa Orang bisa dikatakan dewasa itu mengapa nampaknya menjadi dewasa itu menakutkan dan serius.

Waktu itu dalam benak saya dan pemikiran saya, gambaran wanita ketika berumur 25 tahun adalah: Dewasa secara penampilan fisik, berpakaian, bertutur kata, pemikiran yang matang dan dapat mengatur emosi dengan lebih baik sehingga semua itu menjadi patokan bahwa wanita ketika berumur 25 tahun sudah “semestinya” Menikah.

Ketika tamat SMA dan memasuki dunia kuliah, saya melihat teman-teman saya mulai mengubah penampilan mereka menjadi dewasa. Dari yang tidak tau berpakaian menjadi paling modis, dari yang tidak tau make-up menjadi paling ahli, dari yang tomboy berubah jadi anggun. Tas ransel diganti dengan tas “ibu-ibu”, sepatu sneakers diganti dengan flat shoes atau high heels yang cantik. Sedangkan saya masih begitu-begitu saja, biasa saja tampil polos apadanya. Saya Cuma focus pada kuliah dan tidak begitu mementingkan apa yang kukenakan,yang penting menutup aurat secara baikdanbenaritu sudah cukup. Waktu kuliah saya jarang ikut jalan-jalan ke Mall atau ngumpul bareng sama teman-teman sekampusku. Saya ke kampus tepat pada waktunya, pulang tepat pada waktunya dan lebih banyak berkumpul sama 3 sahabat kampusku yang memang tidak terlalu sering jalanke Mall. Alhasil setelah selesai kuliah, secara penampilan saya masih begitu-begitu saja, tidak tau bergaya.


Dunia setelah kuliah adalah dunia yang sebenarnya. Ketika saya menjadi Job seeker (Pencari kerja), baru terasa dan saya kemudian paham bahwa memperhatikan penampilan dan make up bagi wanita memang perlu dalam dunia pekerjaan meski tidak semua pekerjaan memberikan persyaratan harus tampil menarik atau memang tidak ditulis dalam persyaratan pekerjaan “Harus bisa make up” tapi setidaknya itu menjadi poin; bahwa kita sebagai pelamar kerja tau menempatkan diri/tau membedakan pakaian/sepatu apa yang pantas dipakai di kantor. Situasi lainnya yang membuat saya belajar bergaya dan make up adalah ketika mulai berdatangan undangan nikah dari teman-teman, ketika saya menjadi asisten dosen, ketika saya kerja dan yang terkhir ketika saya jatuh cinta pada seseorang. Semua hal ini akhirnya membuat saya setidaknya bisa ber makeup. Namun dalam hal penampilan, saya lebih suka yang simple saja. Saya hanya menyesuaikan situasi kapan harus berpakaian formal dan tidak formal. Menjadi apa adanya diriku itu lebih nyaman.

Seiring berjalannya waktu dan begitu banyak proses hidup yang kujalani, beberapa pertanyaan andai-andaiku dulu terjawab pelan-pelan oleh pengalaman hidup yang menempaku sampai pada umur 25 tahun ini. Tapi ada satu pertanyaan yang tidak kudapat jawabannya dari orang-orang dewasa yang pernah kutanya,namun akhirnya kudapatkan sendiri diumurku yang sudah seperempat abad ini ini. selain belajar dari pengalaman sendiri, Secara langsung atau tidak, saya sering mengamati orang disekitar saya, mempelajari hal-hal kecil disekitar saya, melihat berbagai macam karakter orang, mendengar pengalaman hidup orang lain. Dan ternyata; umur tidak bisa jadi di tolak ukur kedewasaan seseorang; penampilan pun tidak; orang yang dewasa itu juga bukan berarti selalu serius menyikapi semua hal,orang dewasa itu juga bukan mereka yang tau menasehati orang lain.orang dewasa juga bukan mereka yang banyak pengalaman. Bagiku, dewasa itu dilihat dari bagaimana kita menyikapi apa saja yang terjadi dalam hidup kita, terencana atau yang tak pernah terencana sekalipun.

Alhamdulilah, kini diusiaku yang sudah seperempat abad, saya sudah bisa membiayai hidupku sendiri dengan hasil keringatku. Penghasilan yang kudapat bisa kutabung, bisa kuberikan pada orang tua dan adekku dan bahkan bisa kugunakan untuk membantu orang lain yang memang sedang susah. Saya memang belum punya pekerjaan tetap yang bisa saya andalkan sampai nanti karena saya masih pegawai kontrak, tapi saya benar-benar bersukur karena apa yang ada sekarang telah mewujudkan sebagian keinginanku yang dulu tidak bisa kulakukan dan disamping itu dengan apa yang saya kerjakan, sebagai pengajar, sekarang saya senang bisa menjadi manfaat buat orang lain. Namun saya merasa masih perlu belajar lebih banyak lagi, saya masih punya harapan-harapn yang belum terpenuhi. Salah satunya, saya ingin menyempurnakan agama saya dengan Menikah,menjadi seorang istri dan Ibu. Allah SWT Maha Tahu yang Baik untuk saya, Maha mendengar Doa-doa dan Maha Mengetahui waktu yang paling tepat untuk mendapatkan yang terbaik. Jika mungkin bukan tahun ini saya di pertemukan denagn “Teman hidup” saya yang telah ditakdirkan menjadi IMAMku, Berati DIA mempunyai Kejutan untukku suatu hari nanti. Mungkin saya harus mempersiapkan diri menjadi Makmum yang baik agar kelak ketika bertemu saya sudah siap mendampingi Imamku. Aku percaya; "Inamaa Amruhuu,idzaa araadha syai'an Ayyaquulalahuuu Kun!! Fa Yakun" ^_^

Selengkapnya...

Yang Pertama di Akhir Tahun

Senin, 31 Desember 2012

Tulisan akhir tahun ini berisi tentang segala pengalaman yang justru menjadi hal pertama dalam hidup saya disepanjang 2012. Sengaja saya tulis diakhir tahun sebagai flash back apa yang telah berlalu di sepanjang tahun ini.

  • Pertama kalinya merasakan jadi anak kos-kosan
  • Pertama kalinya merasakan Nganggur 2 Bulan di kota baru tanpa Teman dan Hiburan (Radio,TV, Laptop)
  • Pertama kalinya jauh dari orang tua
  • Pertama kalinya Kerja
  • Pertama kalinya Ngajar bahasa inggris paling lama (Sehari 7 Jam dengan jeda istirahat 30 menit) selama 50 hari
  • Pertama kali punya ipar
  • Pertama kali punya ponakan
  • Pertana kali Mengawali puasa Ramadhan jauh dari orang tua
  • Pertama kali Rasain yang namanya MUDIK
  • Pertama Kali ke Jakarta,cuma 3 hari tapi ngga liat Monas dan Bundaran HI hahahahaha....

Selengkapnya...

Berjuta Warna dalam FaceBook ^^

Rabu, 17 Oktober 2012




Dalam tulisan ini saya ingin cuap-cuap sedikit tentang Facebook, salah satu situs jejaring yang sampai sekarang tak pernah berkurang peminatnya meski sudah semakin banyak bermunculan sistus-situs jejaring lain yang lebih fun.Sebelumnya saya Ingin membahas Twitter atau BB yang sekarang memang lebih populer daripada Facebook, tapi mengingat bahwa ngga semua orang punya akun twitter dan apalagi ngga semua orang mampu membuat account BlackBery Messangger karena harus punya smartphone BB. Dan dengan perkiraanku sendiri bahwa 9 dari 10 orang akan menjawab “IYA” jika ditanya: “Kamu punya akun FB?” ketimbang ditanya: “Kamu Punya Pin BB?” hehehehehe...

Oke, Terima kasih Facebook, Sepertinya kehidupan manusia dimuka bumi ini menjadi lebih berwarna dengan kehadiranmu. Ketika sedang duduk menunggu antrian panjang di sebuah Bank, menunggu hujan reda disuatu tempat, terjebak macet panjang dalam angkot/mobil, ketika lama menunggu jemputan, ketika lama menunggu teman atau seseorang saat janjian di tempat ramai, kita bisa menangkap beberapa ekspresi orang yang sedang asyik menatap layar poselnya yang membuka halaman Facebook. Ada yang senyum-senyum sendiri, ada yang tertawa sendiri sampai lupa dunia di sekitarnya, ada yang berkerut keningnya karena heran membaca sebuah status atau ada juga yang tiba-tiba menjadi galau setelah tahu bahwa gebetan barunya ternyata telah bertunangan dengan orang lain..hahahaha



Seingat saya Facebook pertama kali mulai dikenal di indonesia sekitar tahun 2005 (Maaf klo perkiraan saya salah :P). Entah dengan alasan apa facebook itu diciptakan oleh si pembuatnya. Awalnya, ketika saya iseng mencoba membuat account di halaman muka buku ini, yang saya pahami bahwa facebook merupakan sebuah situs jejaring sosial untuk saling mengenal orang lain, memperbanyak kawan dan kemudian bersilaturahmi dengan saling berinteraksi satu sama lain. Yah, sama persis dengan jaman dulu yang kita kenal dengan “Sahabat Pena” yang awalnya tidak saling mengenal tapi justru senantiasa intens memberi kabar satu sama lainmeski tak pernah bertemu dalam wujud secara fisik. But in fact, Facebook does works more than than that.,,Facebook creates many story for Facebookers.

Kalimat “What’s on your mind??” yang tertera dalam space kecil dihalaman facebook untuk menuliskan status, ternyata berbicara banyak. Dulu, saya melihat orang-orang mengisi space tersebut dengan berbagi informasi tentang tempat dan kegiatan apa yang sedang mereka lakukan. Namun lama kelamaan, space itu akhirnya sudah menjadi sebuah papan pengumuman untuk mempublish apa saja; Mulai dari hal remeh temeh, curhat, promosi barang, dakwah, motivasi diri sampai membahas tema berat politik atau agama. See??

Nah, dari situs jejaring facebook in saya menjadi tahu bahwa sebagian dari kita ternyata butuh tempat Katarsis. Pernah dengar tidak dengan kata “KATARSIS?” jika disearch lewat Mbah Google, ditemukan bahwa Katarsis merupakan kelegaan secara emosional ketika kita telah melepaskan segala unek-unek yang ada dalam hati dan pikiran –susah, senang marah atau apapun itu-. Jika biasanya teman, sahabat atau orang terdekat kita menjadi tempat katarsis, sekarang (sadar ataupun tidak) space kecil untuk menuliskan status di facebook bisa menjadi tempat katarsis. Melalui facebook, dalam waktu yang hampir bersamaan kita bisa melihat semua itu.

Disuatu tempat, ada orang yang sedang mengucap sumpah serapah, marah-marah, memaki karena jengkel entah ditujukan pada siapa. Ditempat yang lain, ada orang yang begitu berbunga-bunga hanya karena mendapat senyuman termanis dari sang gebetan, ada pula yang lagi amat sangat galau karena putus cinta tapi tak bisa melupakan, juga ada yang sedang merindukan dan mencintai seseorang tapi tak bisa disampaikan, ada juga yang sedang berucap syukur untuk segala nikmat yang ia rasakan pada hari itu ketika ia dapat menikmati semangkuk bakso dan secangkir teh hangat. Ada juga yang sengaja menulis kata-kata sindiran tak langsung buat orang lain yang memang sengaja dipublish padahal belum tentu orang yang dimaksud “merasa” dan bisa-bisa yang lain yang “keGeEran” setengah mati..hehehe... “Bukankah kebahagiaan akan menjadi berlipat ganda jika dibagi, kesedihan akan berkurang jika dibagi dan apa yang tersembunyi jika dibagi akan melegakan hati dan kemarahan akan reda setelah terpatri” mungkin kalimat itu yang pas menjadi alasan munculnya warna-warni distatus-status Facebooker..

Selengkapnya...

Ketika Ramadhan Pergi...........

Jumat, 07 September 2012


“Semoga Ramadhan bukan sekedar dijadikan Euforia semata, semoga segala amal ibadah (wajib maupun sunnah) yang dilakukan selama bulan ramadhan bukan hanya sekedar ikut-ikutan meramaikan suasana”


Ketika bulan ramadhan tiba, saya melihat sebagian besar dari kita amat sangat antusias melakukan segala bentuk amal ibadah namundikemasdalam berbagai bentuk.Mesjid yang tadinya sepi menjadi begitu ramai tumpah ruah, apalagi ketika shalat Tarawih dan shalat shubuh. Orang-orang yang tadinya tidak shalatatau orang-orang yang melaksanakan shalat wajib sesuai kehendak hati saja(Kalo lagi pengen shalat, kaloenggak ya nggakperlu) bisa jadi berubah melaksanakan shalat wajib dibulan ramadhan bahkan menambahnya dengan melaksanakanshalat sunnah tarawih. Orang-orang yang tadinya jarang membaca al-qur’an terlihat berlomba-lomba menghatamkan bacaannya dibulan ramadhan.Adajuga orang yang tetap antusias berpuasa penuh selama bulan ramadhan tapi masih tetapmeninggalkan shalat wajibnya dengan dalih “yang penting saya puasa”.Dimana-mana saya melihat orang bersedekah dan menyantuni anak yatim ketika berbuka puasa maupun sahur. Para Selebriti tanah air yang biasanya berpakaian minim mendadak menutup aurat dengan alasan klise “Menghormati bulan puasa” segala stasiun TV menyajikan sinetron bertema religi.Tablighakbar diadakan di berbagai kota dengan penceramah para Da’i popule. Ada kultum setelah berbuka puasa dan sahur.Hampir setiap hari status-status facebook diisi dengan kata-kata positive tentang kegiatan dan hal-hal baik di bulan Ramadhan daripada status-status galau.Ada juga berisi hadis dan terjemahan al-quran.Sungguh, segala wujud kebaikan dan kasih sayang ada dimana-mana ketika bulan Ramadhan.






Ketika Beduk maghrib tanda berbuka puasa diakhir ramadhan telah berbunyi, Suara takbipun menyusul menggema dimana-mana, bahkan didesa terpencil sekalipun. Tak kalah ramainya juga bunyi nada dering, nada sms dari telepon seluler yang bertubi-tubi masuk berisi berbagai macam rangkaian kata dengan satu kesimpulan: Selamat Idul Fitri,Mohon Maaf Lahit Batin. Di berbagai macam situs jejaring sosial dibanjiri segala status berbeda namun berujung ucapan Selamat Idul Fitri,Mohon Maaf Lahir Batin. Tidak ada lagi berbagai jenis kartu lebaran yang lucu yang dikirim melalui pos seperti ketika waktuku kecil dulu. Mungkin masih ada yang menjual berbagai jenis kartu lebaran itu, tapi peminatnya sekarang bisa dibilang sudah dihitung jari atau bahkan menghilang. Cara itu mungkin sudah dianggap kuno ,lebih tepatnya tidak lagi efektif dan efisien waktu. Memang tak dapat dipungkiri teknologi canggih yang berubah begitu cepat mengikis semua itu.Yah..itulah moment ketika ramadhan beranjak pergi berganti dengan datangnya HariKemenangan. Namun, ketika Ramadhan pergi, apa yang tersisa untuk kita renungi???


Selengkapnya...

MUDIK

Kamis, 16 Agustus 2012

Suasana Mudik begitu terasa sekali menjelang hari raya Idul Fitri yang puncaknya sampai pada malam Takbiran. Hampir semua stasiun TV swasta menampilkan sekilas info berita tentang arus Mudik dimana-mana. Pemandangan di Stasiun, pelabuhan dan Bandara menjadi sesak, sibuk, padat merayap. Para perantau di ibu kota berbondong-bondong hendak pulang ke kampung halaman; untuk beristirahat sejenak dari segala tuntutan rutinitas hidup yang sering menyita segala waktu juga moment-moment berharga bersama orang-orang terdekat, untuk melepas rindu pada sanak saudara, juga untuk berkangen-kangenan dengan kampung halaman. Biasanya, sebagian besar para pemudik selalu mempersiapkan apa saja sebelum pulang ke kampung halaman. Mulai dari oleh-oleh kecil sampai mempersiapkan angpau bagi sanak saudara yang mungkin lama sekali tak pernah dijumpai. Semakin menjelang hari Raya, semakin sepi pula kawasan disekitar rumahku. Satu-persatu penghuni rumahnya pamit untuk pulang kampung sekaligus menitipkan pesan agar kami tetangganya yang tidak pulang kampung bisa memantau kemanan rumahnya. Beberapa teman-temanku menyempatkan salam-salaman padaku sebelum mereka pulang kampung. Bahagia terlihat jelas diwajah mereka. Saya pun membatin dalam hati: “Seperti apa ya rasanya mudik?”
Selama ini saya tak pernah merasakan Mudik. Saya dan seluruh keluarga saya sudah lama berdomisili di Kota Makassar sejak saya pindah dari Timor Leste setelah memerdekakan diri dari Republik Indonesia. Dan Akhirnya, di bulan ramadhan kali ini saya tau bagaimana rasanya MUDIK karena tahun ini untuk pertama kalinya saya tinggal jauh dari Orang tua karena bekerja di Ternate. Sebelum puasa, saya sibuk mencari-cari tiket murah agar saya bisa menyisihkan sebagian uangku untuk membeli oleh-oleh buat keluarga di Makassar. Alhamdulillah, saya akhirnya mendapat tiket Pulang-Pergi dengan harga yang murah berkat seorang sahabat baik saya.Tiket sudah ditangan dan tinggal membelikan oleh-oleh buat mereka yang di Makassar. Setiap hari rasanya selalu tidak sabar menunggu lagi. Setiap hari selalu membayangkan Kota Daeng. Segala rencana disusun untuk mengisi hari-hariku bersama mereka yang selalu kurindukan di Makassar nanti. Beberapa teman dan juga sahabat menanyakan terus tanggal pasti kepulangankuke Makassar. Yah,,,, selama disini, selain rindu pada keluarga, saya juga amat sangat rindu pada mereka, teman dekat dan sahabat terbaikku. Banyak cerita yang ingin kubagi dengan mereka, banyak pula cerita yang ingin kudengar dari mereka. Semakin dekat hari pulang ke Makassar, suasana kantorku juga semakin legang. Teman kantorku yang notabenenya pendatang dari Jawa dan Makassar, sudah lebih dulu pulang dari pada saya. 

Hari yang di nanti-nanti pun tiba. Barang-barangku sudah siap semua. Di Perjalanan menuju Bandara, Hapeku terus bordering karena Telfon dari Bapak. Bapak, adalah orang yang selalu terlalu khawatir padaku dan terkadang memperlakukanku seperti anak kecil, begitulah cara dia menyayangiku. Berkali-kali Bapak menelfonku utnuk memastikan tidak ada yang ketinggalan dan mengingatkanku utnuk membeli cemilan sebelum naik Pesawat. Setelah check in, saya masuk ke ruang tunggu. Sambil menunggu pesawat, saya menyempatkan sms pada teman-temanku juga mengirim sms pamitan dengan seseorang yang saya panggil “Kakak”. Saya lupa, saya belum sempat berpamitan dengannya secara langsung di hari terakhir saya masuk kantor. Akhirnya pesawat yang ditunggu telah tiba. Meskipun berdesak-desakkan, dengan semangat saya mengangkat tas-tasku ke atas pesawat. Segera saya menon-aktifkan handphoneku ketika mendengar bahwa pesawatku akan segera terbang menuju Bandara Hasanuddin. Saya pun mengambil posisi duduk yang enak, sambil melihat ke jendela di sebelah kiriku , saya tersenyum sambil bersorak dalam hati: “Makassar, aku datang!!” Dan entah mengapa hati kecilku yang lain menyahut: Aku akan kembali lagi ke Ternate untuk melihat kembali senyum itu, senyuman seseorang yang telah membuat hatiku merah jambu …
Selengkapnya...

Dua Puluh Empat.....

Kamis, 07 Juni 2012


Sampailah aku di angka 24 dalam timeline hidup ini. Lantas apa yang sudah kulewati? Yang saya tahu, saya sedang BerPINDAH. PINDAH dalam berbagai bentuk; Perasaan, Tempat Tinggal juga berpindah menuju Kedewasaan. Setelah sejenak berhenti dan menghayati apa yang terjadi, sayapun sadar bahwa terkadang saya masih belum cukup dewasa berhadapan dengan dunia yang tak selalu sejalan dengan yang kuharapkan. 


Selama 23 tahun, saya selalu berada dekat dengan Orang tua, Sahabat dan Teman-teman terbaikku. Dan memasuki umur 24, akhirnya saya berpindah tempat tinggal, berpindah lingkungan yang kemudian mempertemukan saya dengan orang-orang baru dan hal-hal baru. Dalam masa-masa itu, saya belajar; bahwa dunia ini tidak selalu diisi oleh orang-orang yang menyukaimu, ada juga orang yang tidak menyukaimu; bahwa terkadang ada benarnya juga kata sipenulis Andrea Hirata “dunia ini rupanya penuh dengan orang yang kita inginkan, tapi tak menginginkan kita, dan sebaliknya!!!!” Terlepas dari semua itu, dimanapun saya berada, satu konsep hidup yang selalu saya aplikasikan adalah tentang HablumminALLAH dan Habblumminannas. Bagaimanapun hidup, kita senantiasa harus menjaga silaturahmi dengan siapapun. Selalu saja berbaik sangka bahwa ketika Allah mempertemukan kita dengan orang-orang yang keluar masuk dalam hidup kita, baik ataupun tidak terhadap kita, pasti selalu ada pesan yang DIA sampaikan agar kita menjadi lebih bersyukur juga bersabar sebagaijalan untuklebih dekat denganNYA.


Berpindah tempat tinggal mungkin tak serumit ketika pindah dalam bentuk perasaan. Sepertinya sudah bertubi-tubi saya membujuk perasaan ini untuk segera pindah dan menghilangkan segala rasaku padanya, pada satu hati yang selalu kurindukan tapi tak merindukanku. Barang-barangku sudah kukemas dan tinggal beranjak pergi, selangkah, dua langkah namun pada akhirnya gagal total karena kaki ini selalu kembali ke tempat yang sama, kembali menuju ke hatinya. Dia bukan superman, Dia manusia biasa saja yang selalu bisa kumaafkan kekurangannya tapi sekaligus memiliki kelebihan yang tak bisa kuabaikan. Dia yang hatinya tak pernah untukku, saya bahkan tak bisa menemukan alasan mengapa saya begitu mencintainya. Hmmm,,,,,kapan saya bisa memindahkan perasaan ini? sehari, sebulan, setahun? Entahlah..... 


Grow a year older...I am just the way I am in my 24th years old. Terkadang saya kekanakkan, kadang menjadi terlalu sensitif untuk hal-hal kecil yang semestinya nda perlu dipikirin, kadang sampai bikin orang sekeliling saya bingung, suka lupa ini-itu kalo lagi panik dan masih banyak lagi kebiasaan-kebiasaan lain yang semestinya dirubah untuk kebaikan diri sendiri. Namun saya selalu ingin bersyukur karena Allah swt mengirimkanku Keluarga dan teman-teman terbaik yang selalu mengkhawatirkanku. Mereka yang menyayangiku apa adanya. Seiring berpindahnya usia, tentu selalu ada doa dan harapan-harapan untuk menjadi lebih baik. Ada beberapa resolusi hidup yang belum tercapai. Saya ingin memilah-milah kembali apa yang perlu dan tak perlu untuk dipikirkan, ingin menempatkan kembali segala sesuatu pada tempat yang semestinya, belajar menjadi lebih dewasa menyikapi apa yang ada, memperbaiki apa yang mesti diperbaiki; melanjutkan kembali ikhtiar yang belum usai sambil mengiringinya dengan doa..Semoga Allah swt meridhoi...AMIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIN....
Selengkapnya...